Sabtu, 18 Oktober 2014

Herman Johannes

Benda itu mengusung nama B3. Tapi ia bukan limbah beracun dan berbahaya. Justru banyak guna serta ramah lingkungan. Itulah tungku B3 (biomassa, bioarang dan biogas) temuan Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (1961-1966). Bahan bakarnya briket arang dari potongan kayu dan dedaunan. Tapi apinya panas sekali, tak kalah dengan kompor gas.

Tungku B3 dikembangkan oleh ayah presenter berita Helmi Johannes ini pada awal 1980-an. Herman --meninggal pada 1992 dalam usia 79 tahun—berprinsip, apapun yang dikembangkan harus membantu ekonomi kecil. “Pemikirannya sederhana, bagaimana rakyat kecil tidak keluar uang untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar”, kata Robby, menantu sekaligus asisten Herman.

Nah, jadilah Herman, mantan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951) ini, berkutat mengembangkan bahan bakar murah dan tidak merusak lingkungan. Ayah empat anak yang hidup sederhana itu mengumpulkan limbah organik seperti potongan kayu, ranting, daun-daunan, batang jagung dan alang-alang. Bahan eceng gondok pun jadi. Inilah yang ia sebut biomassa. Setelah itu dilakukan proses pirolisis, yaitu pembakaran tanpa udara.

Pembakaran dilakukan dalam drum dengan membuat lubang kecil untuk mengeluarkan asap. Jika asap hitam keluar, berarti bahan-bahan tersebut telah menjadi karbon atau disebut bioarang. Bioarang ditumbuk dan dibentuk sesuai cetakannya, bisa kaleng biskuit atau anglo.


Tumbukan bioarang dipadatkan, bagian tengah dibuat lubang berbentuk silinder. Diameternya kira-kira 10 sentimeter. Briket arang tersebut siap digunakan. Caranya, dibakar di bagian tengah. Apinya tanpa asap! Sebab, asapnya turut menjadi bahan bakar. Apa yang dihasilkan inilah yang disebut biogas. Tungku B3 tak hanya bisa mengurangi ketergantungan rakyat pada minyak, juga sungguh ramah lingkungan. Tak perlu menebang pohon untuk mendapatkan biomassa. (Taufik Alwie, Sawariyanto) --- Sumber: Majalah Gatra, Agustus 2004.

Fuad Affandi

Nama Pimpinan Pesantren Al Ittifaq Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung, KH Fuad Affandi meroket berkat penemuannya, Mikroorganisme Fermentasi Alami (MFA). Sebuah formula yang mempercepat proses pembusukan pupuk dengan air liur manusia.

Dengan prinsip tidak boleh ada sehelai sampah pun yang terbuang, kiyai kelahiran Bandung 20 Juni 1948 ini pun berhasil ‘menyulap’ sampah pembalut wanita menjadi keset.

Untuk memasak, Pesantren yang berdiri di atas lahan seluas 14 hektar ini, tidak menggunakan minyak atau gas dari pemerintah. Mereka memanfaatkan biogas, dari kotoran sapi. Gas yang dihasilkan dari kotoran itu lantas disalurkan melalui pipa ke dapur para santri.

Karya-karyanya yang fenomenal itu banyak mendapat penghargaan. Di masa Soeharto, ia menerima Tut Wuri Handayani Award. Pada era presiden Habibie, Fuad dianugerahi Setya Lencana Wirakarya. Kala Presiden Megawati berkuasa, ayah lima anak ini menerima Kalpataru. Serta beberapa penghargaan lainnya.

WONG EDAN
Perjalanan hidup KH Fuad Affandi terbilang dramatik. Dahulu saat kakeknya, KH Mansur memimpin pesantren yang berdiri 1934 ini, banyak larangan yang wajib dipatuhi masyarakat sekitar. Misalnya; Berhubungan dengan pejabat pemerintah, masuk sekolah formal, membuat rumah menggunakan tembok, penggunaan radio, serta larangan pembangunan kamar mandi di dalam rumah.

Konon, menurut KH Fuad Affandi, sang kakek merupakan orang buangan Belanda. Maka segala hal yang berhubungan dengan Belanda ia haramkan. Kebiasaan ini pun menurun kepada ayahnya, KH Rifai’ saat memimpin pesantren.

Tahun 1970, tampuk kepemimpinan beralih ke tangan KH Fuad Affandi. Kebiasaan pun perlahan berubah. Kini di al Ittifaq telah berdiri sekolah formal, mulai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa bangunan pondok tampak bertingkat. Setiap kamar dan ruangan/lokal sudah dilengkapi tempat mandi dan televisi.
Perubahan yang digagas KH Fuad bukan tanpa rintangan. Ratusan orang silih berganti mengancam akan membunuh KH. Fuad Affandi yang telah berani mengubah tradisi leluhurnya itu. “Mereka ada yang bawa golok segala. Setiap hari saya buka pintu selalu ada surat kaleng. Belum lagi saya dikatain wong edan, orang aneh, sinting, wah banyak lagi,” ungkap KH Fuad Affandi kepada Alhikmah.

“Orang aneh ini kayak orang gila, nggak punya mobil malah bikin jalan, untuk beras juga bingung. Wong edan nggak usah diikutin,” katanya, menirukan cibiran masyarakat saat ia membuat jalan puluhan tahun silam.

Begitu juga saat KH Fuad meminta masyarakat memasang listrik. Lantaran persyaratannya harus ada 20-25 rumah yang juga turut serta dipasangi listrik, untuk mewujudkan itu, Fuad nekad meminjam rumah orang lain meski awalnya ditolak sang pemilik.

Temuan MFA
“Di pesantren al Ittifaq ini tidak boleh ada sampah yang ngawur, tidak boleh ada sejengkal tanah yang tidur, tidak boleh ada waktu sedikitpun yang nganggur, supaya tercapai (tambah Baldatun?) thayyibatun wa rabbun ghaffur.”
Begitu prinsip yang dipegang kuat KH. Affandi. Mengapa demikian? “Karena para santri di Pesantren ini merupakan anak-anak miskin, anak yatim, korban TKW, anak nakal, korban narkoba dan yang tidak mampu sekolah. Mereka tidak membawa uang dan beras,” katanya.
Untuk menutupi kebutuhan itu, suami dari Hj Sa’dah ini mewajibkan para santri untuk bekerja sesuai dengan taraf pendidikannya. Bagi santri lulusan SD ada beberapa pilihan pekerjaan, diantaranya: menggarap sawah, mengurus sapi perah, sapi pedaging, domba, atau pun beragam jenis ikan mulai lele, nila dan beberapa lainnya.

Lain halnya santri tamatan SMP. Mereka saban hari ditugasi mengelola hasil kebun berupa sayur mayur untuk dikirim ke super market di Jakarta dan Bandung, mulai dari pemilahan, pengklasifikasian (grading), pengepakkan, hingga pemberian label.
“Logikanya, kalau kita memasok sayur mayur ke super market perhari 3 ton, maka limbahnya seperti apa nanti? Sedangkan satu helai pun di sini tidak boleh dimubazirkan. Rabbana maa khalaqta hadza batila (Ya…Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia),” kata Kiyai peraih penghargaan Good Agriculture Practices (GAP) dari Menteri Pertanian 2004-2009, Ir Anton Apriyantono ini.

Menurut Fuad, Allah menciptakan sampah sekalipun pasti ada faedahnya. Maka dilakukanlah proses grading (pengklasifikasian) terhadap hasil kebun di sana. Grade 1 untuk dikirimkan ke super market. Grade 2 dibuat sayur olahan. Grade 3 dibarter dengan sesuatu yang tidak diproduksi di sini. Grade 4 untuk dikonsumsi sendiri. Grade 5 untuk pakan ternak.
Sisa-sisa pakan ternak lantas dijadikan pupuk. Namun, kendala saat itu, memakan waktu sekitar 3 bulan hingga pupuknya busuk. Jika waktunya kurang, tanaman bukannya subur, malah mati.

Teringat koleganya, Prof Entang, di Belanda, sewaktu ia menerima tawaran pemerintah untuk belajar bercocok tanam pada 1987 di Universitas Wageningen, Belanda, Fuad menyampaikan keluhan ihwal lamanya pembusukan pupuk itu.

“Kalau kita makan pagi busuk sore, kalau kita makan sore busuk pagi. nggak sampai satu bulan kan nunggunya. Ada apa di dalam perut?” kata Prof. Entang, melalui telepon.
Bakteri adalah jawabannya. Kebiasaan bakteri, kalau tidak ada makanan yang masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk memakan sisa makanan yang ada di dalam rongga mulut. Maka ketika naik itulah, tepatnya saat manusia bangun dari tidur malam, bakteri beranjak ke mulut. Kemudian dengan cara berkumur-kumur bakteri ini bisa diambil.
“Jelang subuh, sesudah bangun tidur malam saya menyuruh para santri untuk menampung air bekas kumur-kumur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan pondok,” ungkap KH Fuad.

Untuk menjaga agar bakteri itu tetap hidup, Fuad memasukkan molase atau gula putih, dedak, dan pepaya ke dalamnya sebagai makanan bakteri.
Setelah beberapa hari, air liur santri berubah menjadi cairan kental berwarna keruh. Untuk memeriksa apakah bakteri itu masih hidup atau mati dengan cara mencium baunya. kalau tercium aroma coklat, berarti bakteri masih hidup. Namun, jika tercium bau bangkai, berarti bakteri itu sudah mati.
Setelah itu cairan berisi bakteri yang masih hidup disiramkan ke bahan pupuk yang terdiri dari limbah sayuran dan kotoran ternak. Dari penemuannya ini, proses pembusukan berlangsung hanya dalam waktu 15 hari. Jauh lebih cepat dibandingkan proses sebelumnya, yang memakan waktu hingga 3 bulan.

Selain MFA, ada beberapa temuan lainnya di ranah pertanian, antara lain:
1.    Ciknabat, formula pestisida nabati yang berbahan dasar cikur atau kencur, dan bawang putih.
2.    Inabat, insektisida nabati yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temu lawak, dan air.
3.    Sinabat, sirsak nabati yang berasal dari biji sirsak dan daun arpuse. Fungsinya mengusir hama jenis serangga tanpa meninggalkan residu. Sekaligus dapat menekan tingginya residu, pengaruh pestisida buatan pabrik yang merusak struktur serta sifat biologis tanah.
4.    Betapur, merupakan campuran betadin dan kapur. Campuran ini menangkal sekaligus menyembuhkan sayuran dari serangan hama penyakit Phytophthora infestans yang sering menjangkiti tanaman kentang, serta penyakit Alternaria pori yang menyerang tanaman bawang daun. Bahkan, hama nematoda golden yang sering menyerang tanaman, dan hingga kini belum ada obat pembasminya, bisa diantisipasi dengan pestisida itu.
Sumber:

Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 43

Jumat, 17 Oktober 2014

Evvy Kartini

Di Indonesia, teknologi tenaga nuklir masih menjadi hal yang asing. Namun ternyata kita boleh berbangga, sebab Indonesia justru memiliki seorang ahli yang prestasinya telah diakui dunia. Doktor rer. Nat. (rerum naturalium)Evvy Kartini adalah salah satu dari hanya sepuluh ahli sejenis yang ada di dunia.

Di kalangan internasional, Evvy memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas. Bagi kebanyakan orang, gelas biasanya hanya dipergunakan sebagai barang pecah belah alat rumah tangga. Namun tidak begitu bagi Evyy Kartini. Karena itulah, saat mendapat kesempatan belajar di Jerman, ia mulai menjajaki penelitian terhadap material gelas.

Saat itu sarjana Fisika lulusan Institut Teknologi Bandung itu magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Evvy pun dibimbing ahli hamburan neutron Prof. Dr. Ferenc Mezei. Adapun karier penelitian Evvy dimulai ketika menyelesaikan S2-nya. Waktu itu ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas.


Evyy kemudian membuat berbagai penelitian dari bahan gelas. Seperti saat ini, ia membuat baterai mikro yang dapat diisi ulang. Baterai yang merupakan hasil proses dengan metode teknik hamburan neutron itu, mampu menghasilkan daya yang lebih besar dibanding baterai yang ada saat ini dan juga ramah lingkungan

Danny Hilman Natawijaya

INDONESIA dikenal sebagai negeri kaya bencana gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. Meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 27 Agustus 1883 menjadi sejarah bencana yang tergolong terbesar di dunia.

Gempa di Aceh pada 26 Desember 2004 juga membuktikan ancaman alam yang tetap besar. Tsunami yang diakibatkan gempa berskala 8,7 pada skala Richter di barat Aceh dan oleh dua gempa besar di Kepulauan Nicobar dan Andaman, India, yang terjadi dalam selang waktu dua jam kemudian menewaskan sekitar 150.000 penduduk di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Ironisnya, tidak banyak penduduk di negeri ini yang tergugah meneliti apa yang terjadi di balik gempa dan tsunami itu. Boleh dibilang hanya ada satu pakar yang menguasai geologi gempa bumi (earthquake geologist): Dr Danny Hilman Natawijaya (43), peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Danny muncul bagai meteor di tengah masyarakat yang tak mengenalnya. Namun di kalangan peneliti geologi dan geofisika di Indonesia dan dunia sesungguhnya, ia telah diakui sebagai ahli gempa tektonik Sumatera. Danny yang menamatkan doktornya di California Intitute of Technology dikenal dunia paling tidak lewat jurnal profesi geofisika paling bergengsi di tingkat internasional, yaitu Journal of Geophisical Research. Di jurnal itu makalahnya NeoTectonics of Sumatera Fault terbit tahun 2000 dan pada tahun 2004 di jurnal yang sama muncul karyanya yang berjudul Paleo Geodesy of the Sumatera Subduction Zone.

Makalah itu merupakan hasil penelitian Danny dan Prof Dr Kerry Sieh, pembimbing doktornya di California Intitute of Technology. Dua karyanya itu kemudian menjadi referensi dan acuan para peneliti geotektonik lain di dunia. Pada berbagai kesempatan di forum ilmiah sejak tahun 2000, Danny selalu melontarkan prediksinya bahwa gempa besar akan muncul di pesisir barat Pulau Sumatera. Di lingkup nasional hal itu antara lain dikemukakannya pada seminar tentang pembangunan Selat Sunda di Geoteknologi LIPI Bandung dan pembangunan jembatan Jawa-Sumatera di ITB, masing-masing pada tahun 2000 dan 2003. Ia juga mengungkapkan hal yang sama pada Seminar tentang Tsunami Disaster di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Jakarta awal tahun 2004.

Ketika itu ia mengatakan pembangunan di selat tersebut, terutama dikaitkan dengan rencana pembangunan jembatan Jawa-Sumatera, selain harus dikaitkan dengan ancaman kegempaan akibat aktivitas Gunung Krakatau juga harus memperhitungkan ancaman gempa tektonik di barat Sumatera, terutama yang bakal terjadi di Kepulauan Mentawai, berjarak hanya beberapa puluh kilometer dari Padang dan Bengkulu.
Catatan sejarah gempa di Mentawai menyebutkan, kepulauan ini pada tahun 1833 pernah diguncang gempa berkekuatan 9 pada skala Richter. Periode pengulangan gempa di wilayah ini menurut penelitian yang dilakukannya selama hampir 10 tahun lalu memiliki periode pengulangan sekitar 200 tahun. 

Bila wilayah tersebut sampai terguncang gempa besar lagi, maka daerah yang akan terkena dampaknya bukan hanya Padang dan Bengkulu tapi juga Singapura dan Jakarta, yang masing-masing berjarak lebih kurang 300 km dan 600 km dari sumber gempa itu. Dua kota besar ini daratannya terdiri dari tanah aluvial, hasil sedimentasi, dan reklamasi. Adanya gelombang besar yang merambat sampai di lapisan tanah ini dapat menjadi besar atau teramplifikasi, memberi dampak yang parah.

Bahaya tsunami juga mengancam Padang dan Bengkulu di masa mendatang. Gempa yang berpusat di sekitar Mentawai akan menimbulkan tsunami yang bakal menerjang ibu kota Sumatera Barat itu dalam waktu 10 menit setelah gempa terjadi. Ancaman gempa besar dan tsunami di pantai barat Sumatera ini, menurutnya bukan hanya datang dari Pulau-pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan, tapi juga pulau lain di gugusan Kepulauan Mentawai, yaitu Pulau Sipora yang terguncang gempa tahun 1600-an dan Siberut tahun 1797. “Sejak itu keduanya tertidur panjang untuk menghimpun kekuatan. Saat ini kondisi keduanya sudah cukup ‘matang’ untuk sewaktu-waktu mengadakan serangan kembali,” ulasnya.

Artinya, proses pengumpulan energi di dua pulau itu sudah cukup besar yang mampu ditahan oleh struktur geologi di bawahnya. Kondisi ini diibaratkan seseorang menekan pegas ulir secara mendatar dari satu sisi. Bila dia tidak kuat lagi menekan pegas itu, maka ia akan terdorong ke belakang dan pegas akan meregang kembali ke posisi semula. Ketika terjadi gempa berkekuatan 7,6 pada sekala Richter (SR) di Pulau Simelue tahun 2002, Danny sebenarnya sudah mencemaskan guncangan itu akan memicu sistem kegempaan di pulau-pulau yang berada di sebelah selatannya seperti Pulau Nias yang pernah dilanda guncangan berkekuatan 8,5 SR pada tahun 1861.

Hal itu disebabkan karena gempa di Simelue merupakan pragempa yang akan menaikkan tekanan blok di sebelahnya. Ibaratnya pulau-pulau itu bekerja sama dan berbicara satu sama lain. Ketika satu blok terkena gempa ada daerah antara blok sebelahnya yang tegang atau mengalami shadow stress.

Namun yang terjadi dua tahun kemudian, gempa Simelue itu justru memicu bagian lempeng di utaranya yang mengakibatkan kehancuran di Meulaboh dan Banda Aceh. Hal itu bisa dimengerti karena dorongan lempeng Indo-Australia dari arah selatan terhadap lempeng Eurasia di utara menyerong ke arah barat laut, mengarah ke Teluk Andaman. Diakui Danny, selama ini penelitian gempa di Simelue dan pantai barat NAD tidak dilakukan karena kendala faktor politis dan keamanan. 

Bagaimana Danny dapat mengetahui pola-pola gempa di kawasan perairan barat Sumatera?
Hal ini berkat penelitiannya yang panjang di wilayah tersebut sejak 1995 hingga kini. Bekerja sama dengan Kerry Sieh yang juga bekerja untuk Caltech Tectonic Observatory, ia meneliti pergerakan lempeng dengan memasang antena Global Positioning System (GPS) di pulau-pulau itu dan pantai Sumatera Barat. Sejarah kegempaan diketahui lewat penelitian terumbu karang yang tersebar di wilayah pesisir provinsi itu. Dari bentuk-bentuk karang mikroatol yang menyerupai topi koboi, dikeahui pesisir barat Sumatera pernah mengalami proses naik dan turun dalam periode ratusan tahun lalu.

Naiknya permukaan dasar pesisir itu karena desakan lempeng Indo-Australia, sedangkan penurunannya akibat gempa tektonik. Dengan meneliti bentuk dan struktur lapisan karang itu dapat diketahui Kepulauan Mentawai pernah dilanda gempa besar pada tahun 300-an, 1360, dan 1610. Selama mengalami proses penekanan oleh lempeng, pulau-pulau kecil itu bergerak mendekat ke Sumatera. 

Namun kala terjadi gempa tektonik yang menyebabkan energi yang menekan itu lepas, maka pada saat bersamaan pulau-pulau yang tertekan dan mendekat ke pulau Sumatera itu terlempar menjauh ke posisi semula. Hal ini dapat diketahui berdasarkan data dari sensor GPS, yang menunjukkan jarak antarpulau itu dari waktu ke waktu. Ketika proses penekanan oleh lempeng samudera Indo-Australia yang berada di bawah Samudera Hindia berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun, pulau-pulau itu akan cenderung menurun 2-3 meter sedangkan pantai barat Sumatera naik 2-3 meter oleh desakan lempeng. 

Saat terjadi gempa Aceh dua pekan lalu itu, ia memperkirakan Pulau Simelue naik dua sampai tiga meter sedangkan daratan di pantai Meulaboh sebaliknya, turun sekitar satu hingga dua meter. Kenaikan daratan Simelue itulah yang menyebabkan dampak tsunami tidak terlalu berat dibandingkan Meulaboh yang mengalami penurunan. Dalam masa 200 tahun ke depan, Danny memperkirakan daratan Simelue akan kembali turun perlahan, sedangkan pantai Meulaboh kembali terangkat. Danny bisa mengatakan begitu karena kegempaan dan proses pergerakan geologi di sepanjang pantai barat Sumatera itu yang terdiri dari blok Simelue hingga blok Enggano memiliki pola pergerakan yang sama.

Penelitiannya di Kepulauan Mentawai yang terdiri dari Pulau Pagai, Siberut, dan Sipora, serta Kepulauan Batu, menunjukkan periode ulang gempa masing-masing pulau yang berada di pesisir Kota Padang itu berjangka sekitar 200-300 tahun. Periode gempa pulau-pulau itu diperkirakan tidak berbeda jauh, namun kejadian gempanya berbeda. Sebagai contoh gempa berskala magnitudo 9 (atau hampir mencapai 9 SR) pernah mengguncang Pulau Pagai pada tahun 1833. 

Dengan mengacu periode pengulangan itu, maka diperkirakan gempa di Pulau Pagai akan terjadi lagi sekitar tahun 2033, atau 28 tahun mendatang. Namun pulau tetangga Pagai mungkin saja akan lebih dulu bergoyang, Pulau Sipora misalnya menurut hitungan akan kembali meletus sekitar 1997. Selama ini memang belum ada peneliti yang dapat memprediksi gempa secara tepat. Namun perhitungan ini dapat menjadi pertanda untuk bersiaga selama beberapa tahun kedepan. 

Setelah gempa Aceh apa yang akan Danny lakukan?
Bersama tim dari Puslit Geoteknologi LIPI dan Caltech AS Danny akan terbang ke Padang kemudian menyeberang dengan helikopter dan boat untuk mengambil rekaman data pada GPS di kepulauan Mentawai, yang akan menunjukkan pergerakan muka bumi dan potensi gempa di selatan pesisir barat Sumatera. Menurut Danny, hingga kini telah ada 14 antena GPS terpasang di beberapa tempat termasuk di pulau-pulau di barat Sumatera. Pemasangan peralatan itu memerlukan pendekatan pada masyarakat agar mereka turut menjaganya. 

Dalam survei selama 10 hari, tim juga akan meninjau Nias, Simelue, Meulaboh, dan Banda Aceh. Kunjungan ke empat daerah itu untuk membuktikan hipotesa tentang kenaikan dan penurunan daratan pascagempa. Dalam penelitian gempa tektonik di pesisir barat Sumatera, LIPI akan meneruskan kerja sama dengan Caltech sampai 10 tahun mendatang. 

Dengan kejadian gempa yang menimbulkan kerusakan hebat di Meulaboh dan Banda Aceh, pembangunan infrastruktur penting seperti pelabuhan seharusnya tidak lagi didirikan di daerah yang sama. Lokasi tersebut akan terancam tenggelam pada periode pengulangan gempa beberapa ratus tahun kemudian.
Pembangunan di daerah rawan gempa tektonik dan tsunami harus menganut visi jangka panjang. Pemerintah daerah setempat harus mengubah tata ruang Banda Aceh dan Meulaboh yang kawasannya terlanda tsunami hingga 3,5 km. Daerah yang terkena tsunami dijadikan taman kota dan dihutankan. Sedangkan daerah permukiman dipindahkan ke daerah yang aman. Dalam Konferensi Khusus para Pemimpin ASEAN Pasca-Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan di Jakarta, diputuskan untuk membangun jaringan sistem peringatan dini tsunami di kawasan Teluk Andaman.

Pemasangan peringatan itu harus dikaitkan dengan analisis pascagempa. Bila jajaran pulau mulai dari Simelue, Kepulauan Nicobar, hingga ke Kepulauan Andaman terangkat setelah diguncang gempa tektonik, maka ancaman gempa dan tsunami kemungkinan baru akan muncul lagi 200 hingga 300 tahun lagi. Laporan sementara menyebut, selain Simelue, Nicobar juga terangkat tiga meter. Bila semua pulau itu terangkat, itu artinya ancaman sudah lewat di kawasan itu.

Kini, yang justru harus mendapat perhatian adalah pulau-pulau di sebelah selatan Simelue. Jaringan pemantau dan peringatan dini gempa bumi dan tsunami harus dibangun di bagian selatan pulau di Aceh itu. Dan kalau dibangun sistem peringatan dini tsunami harus yang memiliki kecepatan penyampaian datanya di bawah 10 menit begitu gempa muncul. Hal ini dikaitkan dengan jarak pertemuan lempeng samudera relatif dekat dengan daratan Sumatera. Bila gempa tektonik terjadi di Mentawai, maka dalam waktu 10 menit gelombang pasang yang ditimbulkannya sudah sampai di Padang.

* * *
Meneliti sesar dan zona subduksi Sumatera menuntut pengetahuan dari beberapa disiplin ilmu terkait seperti geologi, geofisika, dan seismologi. Ilmu itu semua telah dimilikinya. Setelah menyelesaikan S1 geologi dari ITB, Danny melanjutkan program master geologi di Universitas Auckland Selandia Baru. Selama delapan tahun di AS berbagai studi ditempuhnya, bukan hanya master geofisika dan doktor geologi, ia juga mempelajari ilmu tentang tsunami, seismologi, cara penggunaan GPS untuk melihat pergerakan lempeng, serta meneliti karang guna mengetahui sejarah gempa.

Menguasai berbagai ilmu itu memudahkannya berkomunikasi dengan para ahli di bidang itu. Dengan begitu ia dapat memberikan masukan untuk pembuatan model pembangunan dan simulasi kejadian yang sesuai dengan kondisi kegempaan yang ada. Sayangnya, bicara tentang disiplin geologi dan geofisika, lulusan sarjana di dua bidang tersebut, di Indonesia sekitar 90 persennya hanya meminati ilmu yang berkaitan dengan pertambangan, terutama minyak dan gas, suatu bidang “basah” yang menjanjikan pendapatan melimpah. Sedangkan penelitian tentang gempa bumi dan gunung berapi yang berisiko tinggi menjadi lapangan kerja yang gersang.

Apresiasi yang rendah bagi para ahli gempa dan kurangnya perhatian pada bencana oleh pemerintah menyebabkan rendahnya minat masyarakat pada bidang ini. Lapangan kerja yang berkaitan dengan penelitian gempa bumi dan tsunami belum terbuka lebar. Tapi ini harus diciptakan, antara lain lewat penetapan peraturan pembangunan suatu wilayah. Untuk mengembangkan suatu wilayah harus didahului dengan analisa bencana, tidak cukup hanya Amdal. Keluarnya peraturan ini memungkinkan terciptanya lapangan kerja di bidang analisis bencana alam, yang dapat menyerap ahli geologi dan geofisika.

Penyadaran dan sosialisasi tentang bencana alam harus dilakukan lewat kurikulum ilmu kebumian mulai dari tingkat SLTP bahkan SD. Selama ini yang diajarkan lebih ditekankan pada eksplorasi dan eksploitasi hasil bumi, dan kurang mengangkat hal yang berkaitan dengan potensi bencana dan upaya agar terhindar dari bencana itu. Upaya menularkan ilmu tentang gempa melalui jalur pendidikan dilakukannya dengan memprakarsai pembuatan kurikulum kuliah bencana alam di ITB tahun lalu. Pelajaran 3 SKS ini dapat diambil oleh mahasiswa tingkat 2 dan 3. Animo mahasiswa tergolong besar untuk mata pelajaran ini. Sekarang ini satu angkatan ada sekitar 30 mahasiswa yang mengikuti kuliah yang diajarkannya. Di almaternya itu ia juga memberi bimbingan mahasiswa S2.

Untuk meningkatkan penelitian kegempaan di Indonesia, Danny yang menghabiskan waktunya selama 3 bulan dalam setahunnya di lapangan akan mengajak peneliti asing dalam kegiatan penelitiannya. Namun ia tetap mengupayakan pendampingan dengan peneliti dari negeri sendiri. Hal ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tenaga ahli di Indonesia dan survei dan penelitian gempa tektonik. 

Untuk lebih mendalami masalah kegempaan di kawasan barat Indonesia, saat ini ia tengah mempersiapkan program Riset Unggulan Terpadu Internasional (RUTI) untuk meneliti gempa dan tsunami di Sumatera. Penelitian selama tiga tahun ini akan melibatkan peneliti dari ITB, Caltech dan Washington State Univesity, dan Taiwan. Minatnya untuk mendalami masalah kebumian dan lingkungan tumbuh ketika anak kedua dari tiga bersaudara ini melewati masa kecilnya di Subang. Menjelajahi hutan karet di PTP 30 Subang tempat ayahnya, H Ahmad Natawijaya, bekerja, mendorongnya untuk menyukai tantangan di alam.

Sejak usia 5 tahun ia sudah ikut berburu di hutan dan bersama teman-temannya menjejahi hutan. Bila lapar dan kehabisan bekal mereka akan mencari buah-buahan atau akar-akaran, di antaranya raja goah yang dapat di makan. Bertualang di alam terus dilakoninya meski ia telah menetap di Bandung bersama keluarganya ketika ia menginjak usia SMP hingga lulus ITB. Bidang geologi di institut itu kemudian menjadi pilihannya di tingkat Sarjana Strata-1. Begitu lulus sarjana dengan tesis tentang Tektonik dan Stratigrafi tahun 1986, Danny lalu meniti karier di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Ke depan ia berencana untuk terus menekuni penelitian gempa sembari menularkan ilmu dan pengetahuan di almaternya.

Kamis, 16 Oktober 2014

Budi Noviantoro

Tidak mudah membangun jalan kereta api sebab membangun jalur sistem kereta api kait-berkait dengan bermacam-macam hal, khususnya alat keselamatan perjalanan. Seperti pembangunan jalur ganda Cirebon- Cikampek Segmen 1, antara Cikampek dan Haurgeulis, Jawa Barat. Badan jalan selesai, rel terpasang lurus karena sudah di-listring (align), sebagian tetap saja tidak bisa digunakan karena persinyalan belum selesai. Padahal, proyek penggandaan jalur Cirebon-Cikampek ini dibangun dengan berbagai prestasi karena unik dan selesai sebelum jadwal, tetapi kemudian terganjal karena tidak "masuk" Stasiun Cikampek akibat Proyek Bandung Corridor yang waktu itu belum selesai.

Bandung Corridor juga merupakan proyek jalur ganda parsial yang dibiayai Bank Dunia yang sepotong-sepotong membentang antara Stasiun Cikampek sampai Padalarang. Sementara Cirebon–Cikampek dibiayai bantuan Jepang dan keduanya merupakan proyek Departemen Perhubungan yang hari ini diresmikan presiden. Segmen 1 Cikampek-Haurgeulis sepanjang 54,3 kilometer ini merupakan bagian akhir dari jalur ganda Cirebon-Cikampek yang panjangnya sekitar 160 kilometer. Proyek ini semula direncanakan akan selesai pada November 2005 sesuai dengan hitungan konsultan. Namun setelah dihitung kembali, direncanakan dapat digunakan pada bulan Maret 2004. Kenyataannya, 14 November lalu jalur ini sudah dapat digunakan sehingga membantu memperlancar angkutan Lebaran. Dari jalur sepanjang 54,3 kilometer itu, 40 kilometer sudah komplet dengan persinyalan. Sisa sinyal sudah dipasang, tetapi belum dilakukan commissioning oleh kontraktor. Dengan alasan keselamatan, PT Kereta Api (PT KA) belum berani mengoperasikannya.

Keberhasilan ini -ketika tak ada lagi kemacetan di jalur Cirebon/Cikampek karena tak lagi berbentuk jalur tunggal- tidak bisa dilepaskan dari peran Kepala Proyek (KA) Lintas Utara Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan. Keberhasilan membangun hanya satu segmen ini boleh kita anggap belum jadi ukuran, tetapi yang dikerjakan Budi Noviantoro (43) -biasa dipanggil Novi- memang selalu mengundang kekaguman. Ia berhasil mempercepat pembangunan jalur ganda Cikampek-Haurgeulis karena kejelian memanfaatkan dan mengerti kebutuhan orang lain.

Kontraktor ingin proyek segera selesai sehingga cepat dibayar dan mencari pekerjaan lain. Berdasarkan alasan sederhana itu, tutur Novi, ia membagi proyek menjadi enam seksi yang dikerjakan serempak, tidak menyelesaikan sepotong-sepotong. Hasilnya, target penyelesaian November 2005 maju menjadi Maret 2004 dan akhirnya Februari mendatang semua sudah selesai karena tinggal persinyalan saja. Ketika konsultan dan pemberi bantuan mengatakan harus mengganti jembatan Kalibodri yang pilarnya bergeser dengan akibat harus menutup jalur selama belasan jam, Novi bilang tidak. "Wong jembatan masih bagus, kan bisa lebih hemat," kata ayah dua putra itu. Jembatan hanya dipindahkan ke pilar baru dengan cara menggeser di lempengan baja antikarat yang dilapisi teflon agar licin sehingga proses penggeseran pun hanya tiga jam. Orang Jepang yang tidak percaya pada ide Novi mengirimkan sejumlah ahli untuk memantau pergeseran ini. Selain itu, sekitar 150 mahasiswa jurusan teknik dari beberapa perguruan tinggi di Jateng dan Yogyakarta juga ikut hadir, yang kalau proses penggantian itu dikuliahkan, perlu 20 jam. Prinsip Novi, bahwa pekerjaan ini harus bisa diselesaikan dengan biaya murah, tingkat keandalan tinggi, dan cepat selesai, sudah memberikan hasil dengan diresmikannya jalur ini.

PT KA pun sebenarnya harus berterima kasih kepada pemuda kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960, itu karena beberapa prestasinya. Misalnya ketika ia harus meninggikan rel dan mengganti jembatan di jalur Tegal-Tanjung (Jateng) karena permukaan tanah di sekitar jalur itu terasa semakin tinggi sehingga jalur KA terancam banjir. Proyek itu malah membuat PT KA secara tanpa sengaja mendapat jalur ganda di tempat itu tanpa tambah biaya.

Dengan cara konvensional, untuk mengatasi masalah itu adalah dilakukan peninggian rel sedikit-sedikit dan ini memakan waktu lama serta mengganggu perjalanan KA. Cara lain adalah dibuat rel di sampingnya dan lalu lintas KA dialihkan ke rel sementara itu ketika jalur lama dinaikkan. Setelah selesai, jalur sementara dibongkar lagi, batu-batu balasnya dikeruk untuk digunakan di tempat lain.

Cara kerja Novi tidak demikian. Ia tetap membangun jalur sementara tetapi dalam posisi tinggi, naik 2,85 meter dibandingkan dengan posisi rel lama, sehingga malah pada perlintasan dengan jalan raya ia dapat membangun sebuah underpass. "Dengan underpass, tak akan ada tabrakan di perlintasan lagi," katanya. Rel lama kemudian juga ditinggikan sama dengan rel baru.

Novi tidak cuma piawai di lapangan. Ia juga berhasil membuat penambat rel (fastener) yang namanya KA-Clip, yang kemudian dipatenkan atas nama PT KA yang diproduksi oleh PT Pindad. Ia membuat penambat itu karena melihat, untuk rel-rel di Indonesia dibutuhkan penambat khusus. Misalnya untuk rel ukuran R33, tak mungkin menggunakan penambat merek Pandrol atau DE-Clip karena longgar. Apalagi Pandrol dan DE-Clip harus diimpor atau dibuat di Tanah Air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten. Dengan KA- Clip yang sudah diuji bertahun- tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak harus mengimpor, berarti menghemat devisa. Apalagi klip buatan Novi ibisa digunakan di rel ukuran berapa saja, baik R33, R42, maupun R54.

Putra seorang guru STM yang menamatkan pendidikan S1 teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung ini sangat rendah hati. "Paten KA-Clip bukan atas nama saya karena dari awal saya serahkan kepada PT KA," kata suami Windarti ini tanpa beban. Ia merasa semua bukan pekerjaannya sendiri karena antara lain PT Pindad memfasilitasinya untuk melakukan penelitian dan pengembangan, kemudian memproduksi.


Kalau saja Novi yang memegang paten, dia akan mendapat royalti dari PT KA yang kini sudah menggunakan ribuan KA-Clip di seluruh jaringannya. KA-Clip itu membuatnya meraih Penghargaan Teknik Industri Kreasi Indonesia 2003 dari Presiden Megawati Soekarnoputri belum lama ini. (Moch S Hendrowijono) --- Sumber: Harian Kompas, 4 Desember 2003.

BJ Habibie

Pada 1960, hampir lima puluh tahun silam, industri pesawat terbang mengalami ketakutan dari sebuah ketidakpastian. Ketakutan itu berawal dari sering terjadinya musibah pesawat terbang karena kerusakan konstruksi yang tidak terdeteksi, yaitu kelelahan (fatique) pada bodi pesawat. Masih belum tersedianya peralatan canggih—seperti pemindai sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer, untuk mengatasi persoalan rawan ini—adalah salah satu faktor yang mendukung kesulitan itu.

Biasanya titik rawan kelelahan ini terjadi di sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin. Sebab elemen inilah yang secara terus-menerus mengalami guncang keras, baik ketika sedang take off maupun landing. Ketikatake off, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar. Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (crack). Pada awalnya retakan itu cuma berukuran 0,005 milimeter, akan tetapi itu terus merambat. Setiap hari semakin memanjang dan bercabang-cabang. Kalau secara dini tidak terdeteksi, bisa berakibat fatal, karena sayap pesawat bisa patah tanpa diduga-duga. Tentunya hal itu menjadi perhatian dunia penerbangan, apalagi saat itu mesin-mesin pesawat juga mulai berganti dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar.


Ketika itulah seorang anak muda bernama Bacharuddin Jusuf Habibie datang menawarkan solusi. Habibie-lah yang selanjutnya menemukan bagaimana rambatan titikcrack itu bekerja, yang kemudian dikenal dengan nama teori crack progression. Dengan teorinya, Habibie berhasil menghitung crack itu dengan rinci sampai pada hitungan atomnya. Tentunya teori ini membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah. Dengan ditemukannya teori crack progression atau lebih dikenal dengan Faktor Habibie, porsi rangka baja pesawat bisa dikurangi dan diganti dengan dominasi alumunium dalam bodi pesawat terbang. Di samping itu bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) sampai 10 persen dari bobot konvesionalnya.

Faktor Habibie ternyata juga memiliki peran dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara ketika pesawat take off. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Faktor mesin jet yang menjadi penambah potensi fatique menjadi turun. 


Riwayat keilmuan Habibie dimulai ketika ia mendapat beasiswa dari pemerintah untuk belajar di Technische Hochschule Die Facultaet Fue Maschinenwesen, Aachen,Jerman, pada 1956. Selama setahun sebelumnya, Habibie tercatat sebagai mahasiswa ITB. Selepas mengantongi gelar diploma ingenieur jurusan konstruksi pesawat terbang, tahun 1960, sambil melanjutkan kuliahnya, ia menjadi asisten Riset Ilmu Pengetahuan Institut Konstruksi Ringan di kampusnya. Di Jerman ia juga bekerja di HFB (Hamburger Flugzeugbau).

Di perusahaan ini, ia ditugaskan memecahkan persoalan menyangkut kestabilan konstruksi di bagian pesawat terbang F 28 yang saat itu sedang dikembangkan. Mulai dari bagian bawah hingga ke ekor pesawat. Padahal sudah meriset selama tiga tahun, perusahaan itu belum mampu memecahkan persoalan penstabilan konstruksi di bagian ekor pesawat. Namun, ketika dipegang Habibie, hanya dalam tempo 6 bulan saja masalah itu berhasil dipecahkan. Kemudian, HFB menyerahkan tugas baru kepadanya, yakni memecahkan persoalan yang menyangkut konstruksi gantungan mesin di bagian belakang dari pesawat terbang eksekutif yang dikenal dengan nama HFB 320. Tujuh bulan setelahnya, persoalan itu dapat dirampungkan. 

Tugas-tugas dalam penelitian itulah yang terus-menerus ditekuninya, yang kemudian menghasilkan rumusan-rumusan asli di bidang termodinamika, konstruksi, aerodinamika, dan keretakan. Penemuan-penemuan tersebut sudah diabadikan berbagai pihak, yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang dikenal dengan teori Habibie, faktor Habibie, dan metode Habibie. Selama bekerja di perusahaan itu, 
BJ Habibie  memang menggunakan kesempatan untuk mengetahui persoalan sampai sedetail-detailnya. 

Namun, kita sendiri tahu, meskipun memiliki segudang prestasi dan intelektualitas yang mumpuni, Habibie yang lahir di Pare-pare 25 Juni 1936 ini justru tidak mengabdi di negaranya sendiri. Ia malah hengkang ke negeri Jerman. Medio 2000, bersama Hasri Ainun (istrinya), Habibie tinggal di rumah pribadinya yang luas di Kakerbeck, sebuah kota kecil 60 kilometer dari Hamburg. Di negeri orang, Habibie menjadi figur yang sangat dihormati. Di Jerman, namanya dikenal luas orang kebanyakan. Bahkan, setiap rombongan turis yang melintasi rumahnya di Kakerbeck, diperkenalkan oleh para pemandu-pemandu wisata sebagai "rumah Presiden RI ke-3 dan pakar pesawat terbang terkemuka.” 

Rabu, 15 Oktober 2014

Ayub S Parnata

Walau usia sudah mencapai 72 tahun, Ayub S.Parnata seakan tak pernah kehilangan semangat. Di tengah kesibukannya mengurus anggrek, setiap bulannya ia rutin mengirim minimal 2 kontainer pupuk organik ke Cina. Jumlah itu masih ditambah dengan ½ kontainer untuk melayani permintaan dalam negri. Kalau dihitung-hitung, sekitar 64 ton pupuk cair disalurkan tiap bulan. Bersama mitra kerja asal Hongkong, Ayub mempunyai pabrik peracikan pupuk di Cina Selatan. Di sana, biang pupuk organik yang dibuat di Indonesia diubah menjadi pupuk siap pakai. Lalu dieskpor kembali ke beberapa negara di Asia, Australia dan Amerika Serikat. Di Asia, pelanggannya datang dari Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Mongolia. Permintaan konsumen terus meningkat. Peningkatan 100% per tahun untuk pasaran luar negri dan 20% dalam negri.

Keberhasilan itu bukan datang sendiri layaknya bintang jatuh. Kisahnya dimulai 1960. Saat itu, Ayub mencoba bercocok tanam jagung. Sayang produksinya amat minim, tidak sampai 750 kg/ha. Kenyataan ini menggelitik lulusan Hogere Burgerschool itu untuk meneliti penyebabnya. Hasil pengamatannya menunjukkan, penyebab produksi minim karena efek samping penggunaan kimia dari pupuk yang tidak terserap efektif oleh tanaman sehingga hanya tersimpan di dalam tanah. Untuk menguraikan lagi, harus dengan bantuan jasad renik. Dari hasil analisis, diketahui pada tanah subur selalu ditemukan Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens. Dua jasad renik itulah yang harus didapatkan untuk dimasukkan ke tanah yang rusak. Pencarian jenis jasad renik itulah yang memakan waktu lama. Mencari di alam hingga membiakkan dengan media agar (jel) bukanlah proses mudah. “Seperti orang buta yang mencari-cari, tanpa ada satu buku pun yang menuntun”, ujar Ayub melukiskan betapa sulitnya pencarian itu.

Setelah jasad renik berhasil dibiakkan, menentukan formulasi pupuk yang tepat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai komposisi dicoba dan hasilnya kebanyakan gagal. Misal ketika diujicobakan ke suatu lahan padi, bukannya menjadi subur, tanaman malah hangus terbakar. Begitu pun ketika diuji pada bunga kesayangan, anggrek. Si cantik eksklusif itu daunnya berguguran satu-per satu.

Mirip Thomas Alva Edison yang tak pernah berhenti meneliti sampai berhasil, Ayub tidak berputus asa terhadap kegagalan yang ditemui. Penyilang 10.100 anggrek itu terus mencari jalan untuk memperbaiki penemuannya. Kerja kerasnya baru terbayar setelah berkutat 17 tahun. Ayub menemukan campuran pupuk yang tepat. Ramuan terbuat dari bahan-bahan organik dan mikroba-mikroba menguntungkan. Pertama kali dicobakan pada lahan jagung, hasilnya menakjubkan. Produksi yang semula hanya 600 kg/ha, meningkat pesat menjadi 8,5 ton. Tak heran jika Menteri Pertanian waktu itu tertarik berkunjung ke perkebunannya.

Ayub pun kian semangat meracik pupuk dari bahan-bahan organik yang mudah didapat dan berharga murah. Ikan laut, daging apkir atau limbah hewan digunakan. Bahan baku itu diperoleh dari daerah pesisir. Bila kekurangan, ia mengimpor dari Cili dan Denmark. Investasi yang dikeluarkan tidak main-main. Empat rumah miliknya direlakan dijual untuk melengkapi sarana produksi.

Namun rupanya perjuangan belum usai. Memasuki awal 90-an, Ayub mencoba untuk memasarkan produk bermerk Top Soil Fertilizer di Jawa Barat. Diharapkan pupuk itu bisa membantu para pekebun di sana untuk meningkatkan produksi. Namun pil pahit harus ditelan ketika niatan itu terbentur urusan perizinan. Maklum, waktu itu pupuk organik memang belum populer. Pupuk kimia yang jadi primadona. Ia pun urung memasarkan di dalam negri.

Kegagalannya tak membuatnya berhenti berkarya. Berbekal keyakinan bahwa pupuk organik memiliki keistimewaan, pasar luar negri pun dijajaki. Bersama rekan kerja di Hongkong, ia memilih Cina sebagai sasaran pertama. Pertimbangannya, sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia, peluang pasar terbuka lebar. Izin peredaran diperoleh dari Beijing University.

Ternyata sambutan penduduk di negri tirai bambu itu luar biasa. Malah pria yang gemar berkemeja batik ini mendapat tawaran maha berat. Ia diminta bekerja sama dengan para pakar di Universitas Beijing untuk mengembangkan formula. Bila diterima, rakyat Cina-lah yang menikmati penemuannya. Rasa nasionalismenya menuntun Ayub menolak tawaran itu.

Tahun pertama sejak mendapat izin ekspor pada 1991, ia mengirim 10 kontainer biang pupuk ke pabrik perakitan di Cina. Di sana biang itu diencerkan sampai 5% sebelum dipasarkan. Volume pengiriman terus meningkat dari waktu ke waktu hingga 100% pada 2003.

Pertengahan 1995, pabrik perakitan itu kedatangan tamu kehormatan, Menteri Pertanian Thailand. Rupanya pupuk organik karya Ayub berhasil mengatasi penyakit busuk buah dan busuk akar pada durian akibat pengaruh kimia. Setahun berikutnya, giliran Menteri Pertanian Malaysia datang. Lagi-lagi berkat hasil spektakuler pemanfaatan pupuk organik itu di perkebunan karet di Malaysia. Karet terus menghasilkan getah meski telah 20 tahun berproduksi.

Kegagalan memperoleh perizinan usaha di dalam negri 8 tahun silam tak membuatnya jera. Uji coba yang dilakukan selama 2 bulan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Bandung, menunjukkan hasil memuaskan. Perjuangan itu akhirnya berbuah dikeluarkannya izin dari pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian pada 1999.

Pasa di dalam negri mulai dirambah. Melalui agen di Yogyakarta dan Sumedang, pupuknya menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Di antaranya, Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Kerjasama dengan Pusat Koperasi Veteran (Puskoveri) Jawa Barat dalam memasarkan pun terus dibina.

Untuk memenuhi permintaan dalam dan luar negri, rumah sang kakek yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Bandung, dijadikan pabrik. Semua bahan baku dan alat-alat produksi menempati belasan ruangan di dalamnya. Di situlah Ayub membuat formula pupuk pesanan para relasi dibantu tiga orang rekannya. Pupuk berbentuk cair lebih dipilih Ayub karena dalam bentuk itu jasad renik mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun. Sebaliknya, dalam bentuk padat, fungsi jasad renik berkurang, bahkan mati.

Pupuk organik Ayub tidak hanya meningkatkan produksi tumbuhan. Tanpa mengubah komposisinya, ia bisa diterapkan pada ternak, ikan atau udang. Penelitian di Universitas Gadjah Mada pada 2002 menunjukkan, pupuk itu efektif memberantas newcastle disease (ND) pada ayam. Penelitian ini juga mengungkapkan peningkatan keuntungan peternak dari Rp 400.000,- / ekor menjadi Rp 1.750.000,- / ekor.

Kontribusinya di dunia anggrek yang lama Ayub geluti pun tak kalah besar. Phalaenopsis miliknya bisa menghasilkan 17 tangkai bunga per satu tanaman. Buah dari semua itu, penghargaan sebagai mitra kerja berprestasi Dinas Pertanian Jawa Barat dari Menteri Pertanian RI diterimanya pada 2002. Meski demikian, bukan itu semata yang ia kejar. Dampak positif pemanfaatan pupuk organik dalam dunia pertanian Indonesia menjadi terminalnya. Bagi Ayub, prospek cerah pupuk organik membentang di masa mendatang. (Prita Windyastuti) --- Sumber: Majalah Trubus, Februari 2004.