Melihat tren dalam upaya menggenjot hasil
produksi pertanian, Arief Mulyana Djumra, 42 tahun, alumnus Teknik Kimia
Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya ini prihatin dengan peredaran
produk-produk kimia yang digunakan sudah di ambang batas. “Kalau dibiarkan,
akan berdampak negatif. Terutama untuk keseimbangan lingkungan maupun
kesehatan”, kata Arief.
Keprihatinannya kemudian diwujudkan dengan
membuat sebuah formulasi. Bentuknya berupa aktivator hayati untuk tambak udang
dan ikan. Temuan yang digagas bersama rekan kerjanya ini dinamakan Mikrobial Plus.
Yakni, sebuah teknologi berkonsep pengkayaan nutrisi, yang bermanfaat dalam
meningkatkan produktifitas dan kualitas tambak. “Manfaat utamanya adalah untuk
meningkatkan produktifitas dan kualitas lingkungan tambak”, jelas Arif.
Ahli kimia ini memang tergolong orang yang tidak
mau tinggal diam kalau melihat kerusakan ekosistem akibat pemakaian bahan kimia
berlebihan. Berdasarkan pengalamannya melanglang buana sebagai konsultan
lingkungan untuk sejumlah perusahaan, membuat Arief dan rekan-rekannya bertindak.
Dan teknologi bernama Mikrobial Plus itulah hasilnya.
“Aktivator ini adalah hasil penelitian
bioteknologi terapan yang memadukan konsep effective microorganism technology
dari Jepang dan pengkayaan nutrisi”, terangnya. Adapun mikroba yang digunakan
dipilih dari spesies unggul jasad renik daerah tropis tanpa campuran bahan
kimia dan hasil rekayasa genetika. Inilah yang menjadi jaminan 100% akan aman
bagi lingkungan. Tentu saja dengan kegunaan utama untuk meningkatkan
produktifitas dan kualitas hasil udang dan ikan.
Menurut Arief, jasad renik ini murni dibikin di
Indonesia. Pasalnya, negri ini memiliki cadangan bahan yang melimpah ruah, di
samping bebas dari unsur rekayasa genetika seperti yang biasa dipraktikkan
negara lain. “Jadi jelas beda kan?” tambah arek Suroboyo ini.
Dalam memasyarakatkan produk ini, PT. Era
Mandiri Lestari sebagai produsen menunjuk CV. Azka Gemilang. “Sasaran yang
ditembak adalah lokasi-lokasi yang potensial menghasilkan udang dan ikan”, ujar
Diah Sari, direksi CV. Azkia Gemilang.
Lokasi lahan untuk percontohan antara lain di
daerah Dipasena (Lampung), Demak (Jawa Tengah) dan Karawang (Jawa Barat).
Terbukti, uji coba itu memang terasa “khasiatnya”. Di daerah Cibuaya, Karawang
misalnya. Hanya dalam waktu 65 hari, udang bisa mencapai size 30 (artinya 30
ekor per kilo). Padahal, umumnya membutuhkan sedikitnya 90 hari
lebih.
Manfaat lainnya, bisa digunakan untuk mengatasi
penyakit klasik udang, yakni stres. “Jangankan sebelum udang mengalami stres,
pada waktu stres pun bisa sembuh dengan Mikrobial Plus ini”, jelas Arief yang
juga Direktur PT. Era Mandiri Lestari berpromosi. Setiap produk, apalagi yang
berhubungan dengan kelangsungan dan kualitas makhluk hidup, pasti ada efek
sampingnya. Kendati kemungkinannya kecil, pada udang pun demikian. Hal inilah
yang dihindari oleh Arief. “Alhamdulillah, dalam setahun ini tidak ada sedikit
pun yang mengeluh sampai ke telinga kami”, tegasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar