Jumat, 12 Juni 2015

Tjandramukti

Peneliti pertanian tropis dan salah satu pelopor mixed farming yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya di desa ini, sekitar tahun 2000 berhasil menemukan varietas kedelai baru yang memiliki produktifitas yang tinggi, mencapai 3,4 ton per hektar (salah satu yang tertinggi di daerah tropis secara internasional ), dibandingkan rata- rata nasional yang hanya 1,3 ton per hektar.

Kedelai ini memiliki ukuran besar, protein yang tinggi (43,9 %), umur yang pendek (72 hari), dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik di daerah tropis bila ditanam dengan best practice yang beliau kembangkan. Hasil pemurnian bertahun- tahun dalam keadaan yang terkontrol, pada akhirnya menghasilkan dua varietas kedelai unggul, yang pertama telah diserahkan kepada pemerintah daerah dan di daftarkan menjadi benih kedelai unggul nasional dengan nama Kedelai Grobogan, sedang varietas yang lain belum didaftarkan.

Selain kedelai, beliau juga menemukan konsep sumur resapan komunal untuk memanen air hujan di lahan persawahan serta metode optimalisasi tanaman subtropis di daerah tropis seperti ketela pohon, jagung, dan kedelai. (wah hebat )

Mukibat

Pak Mukibat adalah petani sederhana dari Kediri ini pada tahun 1950 menemukan sistem penanaman singkong yang revolusioner. Beliau menempelkan batang ketela pohon karet yang daunnya rimbun di atas ketela pohon biasa (grafting).


Setelah di tanam hasilnya sangat luar biasa. Dengan sistem pemanenan berulang, sebuah ketela pohon dapat memproduksi hingga 5 kali lipat dari yang biasanya. Untuk menghormati sistem tempel pada ketela pohon saat ini secara internasional dinamai sistem Mukibat, meskipun saat ini banyak orang mengaku- aku sebagai sistem mereka dengan sedikit modifikasi dari aslinya.

Rabu, 10 Juni 2015

Dr.Eng. Khoirul Anwar

Indonesia patut berbangga, karena penemu teknologi 4G adalah orang Indonesia, dialah Prof. Khoirul Anwar, yang menemukan dan sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).

Khoirul Anwar adalah alumni Teknik Elektro ITB dengan cumlaude di 2000, kemudian melanjutkan pendidikan di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master di tahun 2005 serta doktor pada 2008. Beliau juga penerima IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) 2006, di California.

Penemuan teknologi 4G berbasis OFDM diawalinya dengan ide mengurangi daya transmisi untuk meningkatkan kecepatan transmisi data. Penurunan daya dilakukan hingga 5dB saja (100.000 = 10 pangkat 5 kali lebih kecil dari teknologi sebelumnya) dan hasilnya kecepatan transmisi meningkat.

Pada paten keduanya, Khoirul Anwar kembali membuat dunia kagum, kali ini adalah menghapus sama sekali guard interval/GI, tentu saja ini malah membuat frekuensi yang berbeda akan bertabrakan, alih-alih menambah kecepatan.

Namun, anak Indonesia asli asal Kediri ini mengkompensasi risiko tersebut dengan mengembangkan algoritma khusus di laboratorium, hasilnya interferensi tersebut dapat diatasi dengan unjuk kerja yang sama seperti sistem biasa dengan adanya GI.


Asisten Professor di JAIST ini masih terus mengasah kemampuannya. Meski berprestasi cemerlang di Jepang, Khoirul Anwar menyimpan keinginan untuk kembali ke Indonesia jika telah menjadi salah satu tokoh terkemuka di bidang telekomunikasi. (BS/PP)

Jumat, 20 Maret 2015

Prof. Ir. R.M. Sedyatmo

Prof. Ir. R.M. Sedyatmo lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada tahun 1909 beliau adalah seorang insinyur Indonesia. Sedyatmo yang sering dijuluki "Si Kancil" karena terkenal karena banyak akalnya menempuh pendidikan di Technische Hogescholl (THS) (sekarang ITB) Bandung. Selesai dari THS pada 1934, Sedyatmo bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Sedyatmo dikenal sebagai penemu "Pondasi Cakar Ayam" pada tahun 1962. Temuan Sedyatmo awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara Polonia, Medan, dan landasan bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Hasil temuannya tersebut telah dipatenkan dan dipakai di luar negeri.

Pondasi cakar ayam terdiri dan plat beton bertulang dengan ketebalan 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 2-3 m. Diameter pipa 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda

Sistem pondàsi cakar ayam sangat sederhana, hingga cocok sekali diterapkan di daerah dimana peralatan modern dan tenaga ahli sukar didapat. Sampai batas-batas

tertentu, sistern ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter.

Namun, Sedyatmo bukanlah ilmuwan yang haus akan penghargaan. Sikap rendah hati dan dedikasinya yang tinggi terhadap bangsa menjadi spirit bagi ciptaannya. Dan uniknya, Sedyatmo selalu menekankan pentingnya intuisi dan pengamatan terhadap alam semesta. Karya cakar ayamnya merupakan bukti bagaimana ciptaannya terilhami oleh akar pohon kelapa.

Beberapa karya Sedyatmo lainnya yang terkenal adalah pompa hidrolis, bendungan Jatiluhur, dan bahkan jembatan Suramadu dibangun berdasarkan konsep awal Sedyatmo. Tak heran, kontribusinya yang luar biasa bagi pengetahuan teknik, menobatkan Sedyatmo meraih sejumlah penghargaan internasional.

Nama Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Sedyatmo

Sabtu, 18 Oktober 2014

Herman Johannes

Benda itu mengusung nama B3. Tapi ia bukan limbah beracun dan berbahaya. Justru banyak guna serta ramah lingkungan. Itulah tungku B3 (biomassa, bioarang dan biogas) temuan Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (1961-1966). Bahan bakarnya briket arang dari potongan kayu dan dedaunan. Tapi apinya panas sekali, tak kalah dengan kompor gas.

Tungku B3 dikembangkan oleh ayah presenter berita Helmi Johannes ini pada awal 1980-an. Herman --meninggal pada 1992 dalam usia 79 tahun—berprinsip, apapun yang dikembangkan harus membantu ekonomi kecil. “Pemikirannya sederhana, bagaimana rakyat kecil tidak keluar uang untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar”, kata Robby, menantu sekaligus asisten Herman.

Nah, jadilah Herman, mantan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951) ini, berkutat mengembangkan bahan bakar murah dan tidak merusak lingkungan. Ayah empat anak yang hidup sederhana itu mengumpulkan limbah organik seperti potongan kayu, ranting, daun-daunan, batang jagung dan alang-alang. Bahan eceng gondok pun jadi. Inilah yang ia sebut biomassa. Setelah itu dilakukan proses pirolisis, yaitu pembakaran tanpa udara.

Pembakaran dilakukan dalam drum dengan membuat lubang kecil untuk mengeluarkan asap. Jika asap hitam keluar, berarti bahan-bahan tersebut telah menjadi karbon atau disebut bioarang. Bioarang ditumbuk dan dibentuk sesuai cetakannya, bisa kaleng biskuit atau anglo.


Tumbukan bioarang dipadatkan, bagian tengah dibuat lubang berbentuk silinder. Diameternya kira-kira 10 sentimeter. Briket arang tersebut siap digunakan. Caranya, dibakar di bagian tengah. Apinya tanpa asap! Sebab, asapnya turut menjadi bahan bakar. Apa yang dihasilkan inilah yang disebut biogas. Tungku B3 tak hanya bisa mengurangi ketergantungan rakyat pada minyak, juga sungguh ramah lingkungan. Tak perlu menebang pohon untuk mendapatkan biomassa. (Taufik Alwie, Sawariyanto) --- Sumber: Majalah Gatra, Agustus 2004.

Fuad Affandi

Nama Pimpinan Pesantren Al Ittifaq Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung, KH Fuad Affandi meroket berkat penemuannya, Mikroorganisme Fermentasi Alami (MFA). Sebuah formula yang mempercepat proses pembusukan pupuk dengan air liur manusia.

Dengan prinsip tidak boleh ada sehelai sampah pun yang terbuang, kiyai kelahiran Bandung 20 Juni 1948 ini pun berhasil ‘menyulap’ sampah pembalut wanita menjadi keset.

Untuk memasak, Pesantren yang berdiri di atas lahan seluas 14 hektar ini, tidak menggunakan minyak atau gas dari pemerintah. Mereka memanfaatkan biogas, dari kotoran sapi. Gas yang dihasilkan dari kotoran itu lantas disalurkan melalui pipa ke dapur para santri.

Karya-karyanya yang fenomenal itu banyak mendapat penghargaan. Di masa Soeharto, ia menerima Tut Wuri Handayani Award. Pada era presiden Habibie, Fuad dianugerahi Setya Lencana Wirakarya. Kala Presiden Megawati berkuasa, ayah lima anak ini menerima Kalpataru. Serta beberapa penghargaan lainnya.

WONG EDAN
Perjalanan hidup KH Fuad Affandi terbilang dramatik. Dahulu saat kakeknya, KH Mansur memimpin pesantren yang berdiri 1934 ini, banyak larangan yang wajib dipatuhi masyarakat sekitar. Misalnya; Berhubungan dengan pejabat pemerintah, masuk sekolah formal, membuat rumah menggunakan tembok, penggunaan radio, serta larangan pembangunan kamar mandi di dalam rumah.

Konon, menurut KH Fuad Affandi, sang kakek merupakan orang buangan Belanda. Maka segala hal yang berhubungan dengan Belanda ia haramkan. Kebiasaan ini pun menurun kepada ayahnya, KH Rifai’ saat memimpin pesantren.

Tahun 1970, tampuk kepemimpinan beralih ke tangan KH Fuad Affandi. Kebiasaan pun perlahan berubah. Kini di al Ittifaq telah berdiri sekolah formal, mulai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa bangunan pondok tampak bertingkat. Setiap kamar dan ruangan/lokal sudah dilengkapi tempat mandi dan televisi.
Perubahan yang digagas KH Fuad bukan tanpa rintangan. Ratusan orang silih berganti mengancam akan membunuh KH. Fuad Affandi yang telah berani mengubah tradisi leluhurnya itu. “Mereka ada yang bawa golok segala. Setiap hari saya buka pintu selalu ada surat kaleng. Belum lagi saya dikatain wong edan, orang aneh, sinting, wah banyak lagi,” ungkap KH Fuad Affandi kepada Alhikmah.

“Orang aneh ini kayak orang gila, nggak punya mobil malah bikin jalan, untuk beras juga bingung. Wong edan nggak usah diikutin,” katanya, menirukan cibiran masyarakat saat ia membuat jalan puluhan tahun silam.

Begitu juga saat KH Fuad meminta masyarakat memasang listrik. Lantaran persyaratannya harus ada 20-25 rumah yang juga turut serta dipasangi listrik, untuk mewujudkan itu, Fuad nekad meminjam rumah orang lain meski awalnya ditolak sang pemilik.

Temuan MFA
“Di pesantren al Ittifaq ini tidak boleh ada sampah yang ngawur, tidak boleh ada sejengkal tanah yang tidur, tidak boleh ada waktu sedikitpun yang nganggur, supaya tercapai (tambah Baldatun?) thayyibatun wa rabbun ghaffur.”
Begitu prinsip yang dipegang kuat KH. Affandi. Mengapa demikian? “Karena para santri di Pesantren ini merupakan anak-anak miskin, anak yatim, korban TKW, anak nakal, korban narkoba dan yang tidak mampu sekolah. Mereka tidak membawa uang dan beras,” katanya.
Untuk menutupi kebutuhan itu, suami dari Hj Sa’dah ini mewajibkan para santri untuk bekerja sesuai dengan taraf pendidikannya. Bagi santri lulusan SD ada beberapa pilihan pekerjaan, diantaranya: menggarap sawah, mengurus sapi perah, sapi pedaging, domba, atau pun beragam jenis ikan mulai lele, nila dan beberapa lainnya.

Lain halnya santri tamatan SMP. Mereka saban hari ditugasi mengelola hasil kebun berupa sayur mayur untuk dikirim ke super market di Jakarta dan Bandung, mulai dari pemilahan, pengklasifikasian (grading), pengepakkan, hingga pemberian label.
“Logikanya, kalau kita memasok sayur mayur ke super market perhari 3 ton, maka limbahnya seperti apa nanti? Sedangkan satu helai pun di sini tidak boleh dimubazirkan. Rabbana maa khalaqta hadza batila (Ya…Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia),” kata Kiyai peraih penghargaan Good Agriculture Practices (GAP) dari Menteri Pertanian 2004-2009, Ir Anton Apriyantono ini.

Menurut Fuad, Allah menciptakan sampah sekalipun pasti ada faedahnya. Maka dilakukanlah proses grading (pengklasifikasian) terhadap hasil kebun di sana. Grade 1 untuk dikirimkan ke super market. Grade 2 dibuat sayur olahan. Grade 3 dibarter dengan sesuatu yang tidak diproduksi di sini. Grade 4 untuk dikonsumsi sendiri. Grade 5 untuk pakan ternak.
Sisa-sisa pakan ternak lantas dijadikan pupuk. Namun, kendala saat itu, memakan waktu sekitar 3 bulan hingga pupuknya busuk. Jika waktunya kurang, tanaman bukannya subur, malah mati.

Teringat koleganya, Prof Entang, di Belanda, sewaktu ia menerima tawaran pemerintah untuk belajar bercocok tanam pada 1987 di Universitas Wageningen, Belanda, Fuad menyampaikan keluhan ihwal lamanya pembusukan pupuk itu.

“Kalau kita makan pagi busuk sore, kalau kita makan sore busuk pagi. nggak sampai satu bulan kan nunggunya. Ada apa di dalam perut?” kata Prof. Entang, melalui telepon.
Bakteri adalah jawabannya. Kebiasaan bakteri, kalau tidak ada makanan yang masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk memakan sisa makanan yang ada di dalam rongga mulut. Maka ketika naik itulah, tepatnya saat manusia bangun dari tidur malam, bakteri beranjak ke mulut. Kemudian dengan cara berkumur-kumur bakteri ini bisa diambil.
“Jelang subuh, sesudah bangun tidur malam saya menyuruh para santri untuk menampung air bekas kumur-kumur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan pondok,” ungkap KH Fuad.

Untuk menjaga agar bakteri itu tetap hidup, Fuad memasukkan molase atau gula putih, dedak, dan pepaya ke dalamnya sebagai makanan bakteri.
Setelah beberapa hari, air liur santri berubah menjadi cairan kental berwarna keruh. Untuk memeriksa apakah bakteri itu masih hidup atau mati dengan cara mencium baunya. kalau tercium aroma coklat, berarti bakteri masih hidup. Namun, jika tercium bau bangkai, berarti bakteri itu sudah mati.
Setelah itu cairan berisi bakteri yang masih hidup disiramkan ke bahan pupuk yang terdiri dari limbah sayuran dan kotoran ternak. Dari penemuannya ini, proses pembusukan berlangsung hanya dalam waktu 15 hari. Jauh lebih cepat dibandingkan proses sebelumnya, yang memakan waktu hingga 3 bulan.

Selain MFA, ada beberapa temuan lainnya di ranah pertanian, antara lain:
1.    Ciknabat, formula pestisida nabati yang berbahan dasar cikur atau kencur, dan bawang putih.
2.    Inabat, insektisida nabati yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temu lawak, dan air.
3.    Sinabat, sirsak nabati yang berasal dari biji sirsak dan daun arpuse. Fungsinya mengusir hama jenis serangga tanpa meninggalkan residu. Sekaligus dapat menekan tingginya residu, pengaruh pestisida buatan pabrik yang merusak struktur serta sifat biologis tanah.
4.    Betapur, merupakan campuran betadin dan kapur. Campuran ini menangkal sekaligus menyembuhkan sayuran dari serangan hama penyakit Phytophthora infestans yang sering menjangkiti tanaman kentang, serta penyakit Alternaria pori yang menyerang tanaman bawang daun. Bahkan, hama nematoda golden yang sering menyerang tanaman, dan hingga kini belum ada obat pembasminya, bisa diantisipasi dengan pestisida itu.
Sumber:

Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 43

Jumat, 17 Oktober 2014

Evvy Kartini

Di Indonesia, teknologi tenaga nuklir masih menjadi hal yang asing. Namun ternyata kita boleh berbangga, sebab Indonesia justru memiliki seorang ahli yang prestasinya telah diakui dunia. Doktor rer. Nat. (rerum naturalium)Evvy Kartini adalah salah satu dari hanya sepuluh ahli sejenis yang ada di dunia.

Di kalangan internasional, Evvy memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas. Bagi kebanyakan orang, gelas biasanya hanya dipergunakan sebagai barang pecah belah alat rumah tangga. Namun tidak begitu bagi Evyy Kartini. Karena itulah, saat mendapat kesempatan belajar di Jerman, ia mulai menjajaki penelitian terhadap material gelas.

Saat itu sarjana Fisika lulusan Institut Teknologi Bandung itu magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Evvy pun dibimbing ahli hamburan neutron Prof. Dr. Ferenc Mezei. Adapun karier penelitian Evvy dimulai ketika menyelesaikan S2-nya. Waktu itu ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas.


Evyy kemudian membuat berbagai penelitian dari bahan gelas. Seperti saat ini, ia membuat baterai mikro yang dapat diisi ulang. Baterai yang merupakan hasil proses dengan metode teknik hamburan neutron itu, mampu menghasilkan daya yang lebih besar dibanding baterai yang ada saat ini dan juga ramah lingkungan